Silaturahmi YASIPP ke Pondok Pesantren Sabilarrasyad: Belajar dari Ketekunan Guru Zonnun Almikhri dalam Membina Pendidikan Islam di Mintin
Pada hari Sabtu, 20 Juni 2026 pukul 07.00 WIB, Pembina Yayasan Salam Insani Pulang Pisau (YASIPP), Bapak Jum’atil Fajar, bersama Ketua Pengurus YASIPP, Bapak Wirawan, bersilaturahmi ke kediaman Guru Zonnun Almikhri di Desa Mintin. Kunjungan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Guru Zonnun menyambut kedatangan tamu di beranda samping rumah beliau.
Bagi Bapak Jum’atil Fajar, pertemuan ini terasa istimewa karena beliau telah lama mengenal Guru Zonnun. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Jum’atil memperkenalkan Bapak Wirawan secara langsung kepada Guru Zonnun. Ternyata, sebelum kunjungan ini dilaksanakan, Bapak Wirawan juga telah berkomunikasi dengan Guru Zonnun terkait rencana silaturahmi tersebut. Guru Zonnun bahkan sempat mencari informasi mengenai YASIPP melalui internet.
Dalam perbincangan yang berlangsung akrab, Bapak Jum’atil menanyakan latar belakang pendirian Pondok Pesantren Sabilarrasyad. Guru Zonnun kemudian menceritakan bahwa pada awalnya beliau mendirikan Raudhatul Athfal (RA). Namun, seiring berjalannya waktu, yang datang untuk belajar bukan hanya anak-anak usia RA, tetapi juga anak-anak yang lebih besar.
Melihat antusiasme masyarakat, para orang tua kemudian mendorong Guru Zonnun untuk mendirikan pondok pesantren. Sebelum merespons harapan tersebut, beliau terlebih dahulu berkoordinasi dengan pengelola salah satu MTs swasta yang ada di Desa Mintin. Saat itu dibangun semangat kerja sama agar pendidikan anak-anak dapat berjalan berjenjang. Pondok Pesantren Sabilarrasyad kemudian mengembangkan pendidikan tingkat Madrasah Ibtidaiyah, dengan harapan para lulusannya dapat melanjutkan ke jenjang MTs, dan selanjutnya kembali melanjutkan ke tingkat Aliyah di lingkungan Sabilarrasyad.
Dalam perkembangannya, dinamika pendidikan di wilayah tersebut berjalan sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan masing-masing lembaga. Setiap lembaga pendidikan kemudian mengembangkan jalannya sendiri-sendiri untuk memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat.
Saat ini, Pondok Pesantren Sabilarrasyad telah memiliki lebih dari seratus santri. Para guru yang mengajar berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang tinggal di lingkungan pondok, ada yang pulang-pergi dari Kuala Kapuas, dan ada pula guru yang didatangkan dari Jawa. Salah satu guru dari Jawa berasal dari Pondok Pesantren Sidogiri dan mengajarkan ilmu alat seperti Nahwu. Sistem pengajar dari luar daerah ini direncanakan berganti setiap tahun agar para santri mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas.
Guru Zonnun juga menyampaikan bahwa untuk menarik minat guru dari Kapuas agar bersedia mengajar di Mintin, pihak pondok memberikan honor mengajar sebesar Rp15.000 per jam. Besaran ini diberikan dengan mempertimbangkan biaya transportasi dan jarak tempuh yang harus dilalui para guru.
Selain mengelola pondok pesantren, Guru Zonnun juga aktif membina kegiatan keagamaan masyarakat. Beliau menyelenggarakan Majelis Ta’lim untuk ibu-ibu setiap hari Selasa siang hingga setelah Ashar. Sementara itu, kegiatan ta’lim untuk para santri dilaksanakan empat hari dalam satu minggu.
Pola pendidikan di Pondok Pesantren Sabilarrasyad merujuk pada pengajaran kitab-kitab keislaman, meliputi tauhid, Al-Qur’an, hadits, dan berbagai disiplin ilmu dasar lainnya. Harapannya, ketika para santri menyelesaikan pendidikan, mereka telah menamatkan kitab-kitab yang menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran pondok.
Dalam perjalanan membina pondok pesantren, tentu terdapat berbagai tantangan. Guru Zonnun menyampaikan bahwa salah satu tantangan yang pernah dihadapi adalah munculnya informasi yang kurang tepat di tengah masyarakat. Misalnya, ada anggapan bahwa beliau menetapkan tarif tinggi ketika diundang berceramah. Dengan santai dan tersenyum, beliau menjelaskan bahwa bagi beliau, dakwah bukan semata-mata soal imbalan. Jika masyarakat tidak memberi pun, beliau tidak mempermasalahkannya.
Selain itu, pernah pula beredar informasi bahwa pondok pesantren tidak mengeluarkan ijazah. Ada juga pengalaman ketika pihak pondok harus menjelaskan prosedur administrasi kepada wali murid atau santri, termasuk dalam hal surat pindah dan penyelesaian administrasi sekolah. Bagi Guru Zonnun, semua itu menjadi bagian dari proses pembinaan lembaga pendidikan yang harus dihadapi dengan sabar, terbuka, dan tetap mengedepankan pelayanan kepada masyarakat.
Ketekunan Guru Zonnun dalam membina pendidikan Islam di Mintin mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Bahkan ada tokoh yang pernah bertugas di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Pulang Pisau menyampaikan rasa hormat atas keteguhan beliau bertahan dan mengembangkan pendidikan di wilayah Mintin. Menurutnya, tidak semua orang mampu bertahan dalam medan pengabdian yang penuh tantangan seperti itu.
Ke depan, Guru Zonnun juga memiliki rencana untuk mengembangkan Pondok Pesantren Sabilarrasyad dengan membuka cabang di Muara Teweh. Rencana ini menunjukkan adanya semangat untuk memperluas manfaat pendidikan Islam kepada masyarakat di daerah lain.
Pondok Pesantren Sabilarrasyad juga telah meraih berbagai penghargaan dari lomba-lomba yang diikuti. Prestasi para santri menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkembang. Bahkan, ada yang menyampaikan bahwa apabila pondok ini mengikuti perlombaan, peluang untuk meraih banyak piala sangat terbuka.
Tidak hanya fokus pada pembelajaran di lingkungan pondok, Sabilarrasyad juga memberikan perhatian terhadap keberlanjutan pendidikan para santrinya. Setiap tahun, pondok memberikan beasiswa kepada siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Guru Zonnun juga mendorong para orang tua agar berani mendukung anak-anak mereka melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Beliau menyampaikan bahwa orang tua perlu menyiapkan dukungan awal agar anak dapat masuk ke perguruan tinggi. Setelah itu, peluang beasiswa dari pemerintah dapat diupayakan untuk membantu keberlanjutan pendidikan mereka. Pesan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memerlukan kerja sama antara lembaga, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.
Silaturahmi YASIPP ke kediaman Guru Zonnun Almikhri memberikan banyak pelajaran berharga. Di balik berdirinya Pondok Pesantren Sabilarrasyad, terdapat ketekunan, kesabaran, dan komitmen kuat dalam membina generasi muda. Bagi YASIPP, pertemuan ini menjadi bagian dari ikhtiar membangun jejaring kebaikan, memperkuat silaturahmi, dan belajar dari para tokoh yang telah lebih dahulu mengabdikan diri untuk masyarakat.
Semoga silaturahmi ini menjadi awal dari hubungan yang semakin baik antara YASIPP dan para pegiat pendidikan serta dakwah di Pulang Pisau. Semoga pula Pondok Pesantren Sabilarrasyad terus berkembang, melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan daerah.
Komentar
Posting Komentar